Mengenang Komponis Legendaris asal Betawi Ismail Marzuki (1914-1958) | POSBANTEN.CO.ID
google.com, pub-2901016173143435, DIRECT, f08c47fec0942fa0
google.com, pub-2901016173143435, DIRECT, f08c47fec0942fa0
Tuesday 16th July 2024

Mengenang Komponis Legendaris asal Betawi Ismail Marzuki (1914-1958)

Posbanten.co.id Jakarta.

Sang maestro, komponis, pejuang legendaris ‘Ismail Marzuki’ berasal dari kampung Kwitang, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat yang dilahirkan pada tanggal 11 Mei 1914. Ketika usianya baru beranjak tiga bulan, ia sudah ditinggalkan ibunya yang meninggal karena sakit. Kakak perempuanya, Hamidah kemudian merawat Ismail Marzuki hingga dewasa.

Ayahnya bernama Marzuki oleh karena itu ia lebih dikenal dengan nama Ismail Marzuki. Di masa kecil oleh teman-teman sekampungnya dan rekan sesama seniman ia akrab dipanggil Ma’il, Ma’ing, atau bang Maing.

Ismail Marzuki merupakan anak bungsu. saudara kandungnya adalah Hamidah, Yusuf, dan Yakub. Kedua kakaknya Yusuf dan Yakub meninggal saat dilahirkan. Oleh karena itu sebagai satu-satunya pria dalam keluarganya, ia menjadi tumpuan dan harapan ayahnya. Apa lagi ayahnya, ‘Marzuki’ sangat terpukul dengan kematian istrinya yang sangat dicintainya itu.

Sebagaimana orang Betawi yang sangat memperhatikan dan mengutamakan pendidikan agama Islam, oleh ayahnya Ismail Marzuki disekolahkan ke Madrasah ‘Uhwanul Fallah’ di Kwitang milik ulama terkemuka, Habib Ali Al Habsyi. 

Dari pendidikan agama yang didapatnya itu, sangat berpengaruh besar dalam pembentukan karakter Ismail Marzuki baik dalam pengetahuan agamanya maupun dalam sikap dan prilakunya dalam pergaulan. Ia dapat menguasai Al-Qur’an dengan baik, berbudi pekerti dan berakhlak terpuji serta menjadi panutan teman-temannya atar seniman.

Karya-karya Ismail Marzuki memiliki karakter yang jelas, konfiguratif. Tematik karya-karya musik dan lagu-lagunyanya kebanyakan bernuansa religi, himne, dan hiburan, serta bersifat patriotistik, heroik. Hal inilah yang telah mampu menggelorakan semangat juang dan perngorbanan bangsa Indonesia di era revolusi perang kemerdekaan.

I0 Ismail Marzuki merupakan salah seorang komponis muda yang paling produktif di zamannya, dan debut musiknya dimulai pada usia 17 tahun. Berikut adalah karya-karya Ismail Marzuki:

1. Oh Sarinah, tahun 1931. Lagu yang menceritakan tentang kondisi bangsa Indonesia yang tertindas 2. Keroncong Serenata, tahun 1935. 3. Roselani, tahun 1936. Lagu yang menggambarkan suasana romantis alam Hawai di Samudra Pasifik 4. Kasim Baba, tahun 1937. Lagu yang berlatar belakang Hikayat 1001 malam. 5. Keroncong Sejati, Bermodus minor dan bernafaskan melodi yang melankolis. 6. Pulau Suweba 7. Di Tepi Laut 8. Duduk Termenung

Ketiga buah lagu, Pulau Suweba, Ditepi Laut, dan Duduk Termenung, dibuat tahun 1938. Dibuat khusus untuk ilustrasi film “Terang Bulan” yang dibintangi Miss Rukiah, Kartolo, dan Raden Muchtar. Dalam film ini, Ismail, bersama teman-temannya berperan sebagai pemain music sebagai pelengkap scenario film. Ternyata film Terang Bulan ini berhasil menarik ribuan penonton hingga negeri jiran, Malaysia pun turut memutarnya. Dalam film ini suara Ismail Marzuki dipakai untuk mengisi suara Raden Muchtar saat acting bernyanyi di film tersebut.

7. Als de Orchiedeen Bloeien, dan Als’t Meis is in de Tropen. Dua buah lagu berbahasa Belanda yang dibuat tahun 1939., 8. Bapak Kromo, 9. Bandaneira, 10. Oh Le le di Kuta Raja, 11. Rindu Malam, 12. Lengang Bandung 13. Melancong ke Bali 14. Dan masih banyak, bahkan ratusan lagi lagu-lagu yang lain yang tak bisa penulis tulis satu per satu di tulkisan ini.

Di era penjajahan Jepang, dimana rakyat Indonesia mengalami kesengsaraan yang begitu sangat mengenaskan, pemuda Ismail Marzuki mampu menggugah rasa cinta tanah air dan bangsa melalui karya-karyanya yang patriotistik, dan heroestik seperti; Mars Gagah Perwira, Karangan Bunga dari Selatan, Tanah Pusaka, Nyiur Melambai, Di bawah Rumpun Bambu, dan Rayuan Pulau Kelapa. Berkat karya-karya tersebut, Ismail Marzuki mendapat anugerah Piagam Wijayakusumah dari Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno atas nama pemerintah RI tahun 1961.

Pada masa revolusi kemerdekaan, pemuda Ismail Marzuki turut berjuang ke medan tempur melalui lagu-lagu ciptaannya yang menggugah semangat heroik para pejuang ke seluruh penjuru Nusantara. Lagu “Halo-halo Bandung”, “Pahlawan Merdeka”, “Selamat Datang Pahlawan Muda”, “Kopral Jono”, “Sersan Mayorku”, “Gugur Bunga”, “Selendang Sutra”, “Sepasang Mata Bola”, “Sapu Tangan Dari Bandung Selatan” adalah lagu-lagu ciptaan Ismail Marzuki yang sampai sekarang tetap berkumandang dan acap kali dinyanyikan baik dalam upacara bendera di berbagai instansi sekolah maupun pada even-even tertentu.

Sang Maestro, Komponis besar yang sekaligus pejuang legendaris, dan pahlawan nasional asal Betawi ini memang sangat mencintai kota Bandung bagian Selatan karena selain keindahan alamnya yang begitu asri dan estetik, juga kota tersebut telah melahirkan seorang mojang (gadis) Priyangan yang telah memikat hatinya, yaitu Eulis Zuraidah binti M. Empi yang kemudian diperistrinya dengan penuh cinta. 

Kecintaan Ismail Marzuki terhadap kota Bandung dan istrinya Eulis Zuraidah, bisa disimak dari lagu-lagunya seperti; “Bandung Selatan di Waktu Malam, “Sapu Tangan dari Bandung Selatan, “Karangan Bunga dari Selatan, “Juwita Malam”, “Sabda Alam”.

Dalam berkarya Ismail Marzuki termasuk seniman yang produktif dan imajinatif. Dalam hidupnya yang relative singkat itu, lebih kurang 200 buah lagu telah diciptakannya. Lagu terakhir ciptaannya sebelum ia wafat adalah “Inikah Bahagia”.

Sampai sekarang lagu-lagu ciptaan Ismail Marzuki tetap abadi dan berkumandang terus di masyarakat. Dalam dinamika pasang surutnya perkembangan musik Indonesia nama Ismail Marzuki putra Betawi asal kampung Kwitang ini, tertulis dan terukir begitu indahnya yang menghiasi lembaran sejarah permusikan Indonesia.

Dia sangat produktif dan imajinatif dalam berkarya, sangat mahir dalam menyusun kata-kata, yang sangat puitis, estetis, dan sastraistis sehingga karya-karyanya banyak mendapat apresiasi tinggi dalam masyarakat. Simak saja salah satu lagu ciptaan Ismail Marzuki berikut,

“SABDA ALAM” Diciptakan alam pria dan wanita, Dua makhluk dalam asuhan dewata, Ditakdirkan bahwa pria berkuasa, Adapun wanita lemah lembut manja Wanita dijajah pria sejak dulu Dijadikan perhiasan sangkar madu. Namun ada kala pria tak berdaya, Tekuk lutut di sudut kerling wanita.

Ya, Ismail Marzuki memang seorang komponis besar Indonesia yang telah mengharumkan nama bangsa dan Negara di kancah nasional maupun internasional lewat bidang seni musik. Ia wafat pada tanggal 25 Mei 1958 dalam usia 44 tahun kerena sakit yang menderanya.

Jenazahnya dimakam di TPU Karet Bivak. Ismail Marzuki meninggalkan seorang istri terkasih Eulis Zuraidah yang meninggal dunia pada tanggal 8 Agustus 2001 di Jakarta, dimakamkan di sebelah makam Ismail Marzuki.

Berkat jasa-jasanya mengharumkan nama bangsa dan negara, berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 089/TK/Tahun2004, ia mendapat penghargaan dan penghormatan yang tinggi sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 5 Nopember 2004. (Referensi: Brosur Lomba Paduan Suara lagu-lagu Karya Pahlawan Nasional Ismail Marzuki Se JABOTABEK 2008 – Kerja Sama Lembaga Kebudayaan Betawi dan Dikmenti DKI Jakarta / S.Priyadi)

Piter siagian. 

#sejarahbetawi#sejarahjakarta#senimanbetawi#pahlawannasional

[otw_is sidebar=otw-sidebar-7]

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

mgid.com, 748613, DIRECT, d4c29acad76ce94f